Kamis, 09 Agustus 2012

Kain sutera

Kain sutera terkenal akan keindahan dan kehalusannya. Pakaian dari kain sutera walaupun mahal tetap saja diminati. Pemakaiannya selain merasa anggun dan nyaman, juga terangkat gengsinya. Banyak orang sengaja mengenakannya demi harga diri. Sebab masyarakat beranggapan, hanya orang berselera tinggi dan berasal dari kalangan menengah keatas yang mengenakan pakaian dari sutera.

Bagaimana proses terbentuknya sehelai kain sutera? Banyak yang belum tahu. Semua itu berawal dari sosok binatang yang menggelikan dan menjijikkan, yaitu ulat-ulat berwarna putih. Ulat itu dikenal dengan nama ulat sutera. Di luar negeri dikenal dengan nama silk worm.

Ulat sutera mengeluarkan air ludah atau liur yang mengandung protein. Itulah yang menjadi bahan pokok kokon. Kokon sebenarnya berfungsi sebagi pelindung dari proses perubahan ulat menjadi kepompong sebelum akhirnya menjadi dewasa. Kokon-kokon ini lantas dikumpulkan. Lewat proses pengolahan sederhana maupun canggih, filamen diubah menjadi benang sutera. Selanjutnya, benang ini ditenun menjadi.

Bila ulat sutera membentuk kepompong, maka setelah dewasa akan berubah menjadi ngengat. Di Indonesia, orang cenderung mengartikan serangga dewasa itu sebagai kupu-kupu sutera. Memang penampilan ngengat sutera agak mirip dengan kupu-kupu. Sayap, badan, dan anggota tubuh lainnya sekilas menunjukkan kesamaan. Padahal ngengat dan kupu-kupu berbeda.


0 komentar:

Posting Komentar