Tampilkan postingan dengan label Murbei. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Murbei. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2013

Peremajaan Tanaman Murbei

Setelah beberapa tahun di tanam biasanya produksi daun murbei akan menurun. Pertumbuhannya kurang baik, sehingga daun menjadi kecil-kecil. Tunas tumbuh kurang dari jumlah normal. Gejala ini menunjukkan bahwa murbei sudah mulai tua. Untuk mengatasinya, dilakukan peremajaan, agar kembali didapatkan pertumbuhan yang baik dan segar, serta produksi daun yang cukup.

Cara melakukan peremajaan pada tanaman murbei adalah dengan melakukan penyambungan setek. Mula-mula pilih setek yang akan dipakai untuk menyambung dengan panjang sekitar 10 cm, mempunyai satu mata tunas atau lebih. Selain itu, setek tumbuh lurus, masih segar dan tidak terdapat memar-memar atau bekas luka.

Penyambungan setek diawali dengan penggalian tanah di sekitar batang. Setelah itu, batang dipotong 2 cm di atas pangkal akar. Kulit dibuka sebasar kulit batang yang akan ditempelkan secara hati-hati dan perlahan. Jangan sampai kulit batang terlepas. Jika kulit batang terlepas juga, dibuat bukaan kulit baru pada sisi sebalahnya. Setelah itu, barulah setek sambungan dipasangkan pada bagian dalam kulit yang terbuka. Sambungan ini dapat dipaku menggunakan paku kecil.

Selesai melakukan penyambungan, sambungan dipelihara dengan baik. Perawatan yang baik akan mempercepat munculnya tunas. Bila pemeliharaan dilakukan dengan teratur, dalam waktu 4-5 bulan akan muncul daun pada tanaman yang baru diremajakan.

Ada cara peremajaan yang tergolong sangat praktis. Sayangnya peremajaan ini lebih cocok dilakukan pada tanaman murbei yang dipangkas sedang atau tinggi. Caranya, dari batang ibduk, diplih cabang yang tumbuh subur pada bagian yang dekat dengan permukaan tanah. Cabang lain yang tumbuh kurang baik atau kurus dibuang. Cabang yang terpilih dipelihara. Dari cabang yang terpilih ini nantinya akan tumbuh tunas dan cabang-cabang baru sebagai penerus dari batang tua sebalumya.

Hama Penyakit yang Sering Menyerang Tanaman Murbei

Tanaman murbei tak lepas dari hama penyakit yang sering menyerangnya. Hama penyakit yang sering menyerang adalah ulat daun dan penyakit kerdil.
  • Ulat daun (Porthesia simillis) ; daun murbei yang terserang terlihat bekas-bekas gigitan ulat. Pohon murbei bisa kehabisan daun sehingga tinggal batang dan cabang. Hama penyebabnya adalah ulat daun dengan nama latin yang lain adalah Euproctis similis. Hama ini cukup berbahaya karena sangat rakus memakan daun dengan cara berkelompok. Jika terjadi serangan berat, seluruh daun murbei dapat kehabisan dalam waktu 2 hari. Badan ulat berbulu dan memiliki ruas dengan batas yang jelas. Pada punggung terlihat bercak-bercak seolah garis terputus-putus. Serangga dewasanya mirip dengan ngegat sutera. Pemberantasan ulat ini dengan menggunakan insektisida seperti trichorphon, dichlorvos, phox atau rotenon yang berbentuk emulsi.
  • Penyakit Kerdil ; Semua daun murbei yang baru tumbuh berukuran lebih kecil dari yang tumbuh sebelumnya. Warna daun lebih muda dan tidak mengkilap, serta daun sering menjadi keriting. Cabang atau batang murbei tumbuh lebih kecil dari normal. Penyebab penyakit kerdil ini adalah mycoplasma dan virus. Benih penyakit masuk ke tanaman lewat luka, setek, pemangkasan atau sambungan. Biji buah murbei dan lahan tidak terkena infeksi. Mycoplasma dan virus ini dapat pula menular lewat vektor belalang daun. Pencegahan penyakit dengan cara tidak menggunakan setek atau bibit dari lahan yang sudah terkena serangan. Selain itu, saat pemangkasan, penyambungan atau pekerjaan lain di lahan dilakukan dengan alat yang bersih. Pengendalian secara kimiawi dengan memakai larutan hydrochloric tetramycin.

Kamis, 14 Februari 2013

Pemeliharaan Tanaman Murbei

Untuk mendapatkan produksi yang optimal dari murbei yang ditanam, mesti dilakukan pemeliharaan. Adapun hal-hal yang harus dilakukan antara lain pemangkasan, pendangiran, pemupukan, pengairan serta pengendalian hama penyakit.

Ada tiga macam pemangkasan yang biasa diterapkan pada tanaman murbei. Yang pertama adalah pemangkasan rendah. Tanaman murmebi dipangkas setinggi 10-30cm dari pangkal batang. Kedua, pemangkasan sedang. Tanaman murbei dipangkas setinggi 30-100 cm dari pangkal batang. Sedangkan yang ketiga adalah pemangkasan tinggi, yakni 100-50 cm dari pangkal batang.

Panen daun beserta ranting dilakukan dengan cara memangkas bagian tanaman dengan berbagai ketinggian seperti di atas. Pada pemangkasan rendah, keuntungannya adalah daun menjadi lebih mudah dipungut, produksi daun lebih banyak, tidak cepat keras, dan pengendalian hama penyakit lebih mudah. Namun, karena produksi daun lebih singkat, maka pemeliharaan harus lebih rajin.

Pemangkasan sedang dan tinggi memiliki keuntungan berupa perakaran murbei lebih dalam. Dengan demikian, murbei lebih tahan terhadap kekeringan dan serangan penyakit kerdil dan masa produksi bisa lebih lama. Kerugiannya adalah waktu antar panen lebih lama. Cara pemamngkasan punlebih sulit karena batang yang dipangkas lebih tinggi.

Pertama kali melakukan pemangkasan murbei adalah saat tanaman berumur 9 bulan. Pada saat itu produksi daun sudah lumayan dan tanaman sudah cukup kuat. Hasil pemangkasan inilah yang diambil sebagai pakan ulat sutera.Untuk memangkas dapat digunakan gunting setek atau alat potong lain yang tajam sehingga dapat memperlancar panen dan menghindari kerusakan pada batang.

Pendampingan adalah membuang gulma atau rumput liar diikuti kegiatan pengemburan tanah yang dilakukan setelah murbei dipangkas. Alat yang digunakan bisa berupa kored atau cangkul. Pendangiran dilakukan untuk memperlancar kegiatan lain seperti pemupukan, pengairan dan pengendalian hama penyakit.

Pemupukan murbei sebaiknya dilakukan sesuai pendangiran. Waktu yang tepat adalah dua minggu setelah pemangkasan. Pupuk kandang diberikan sebanyak 10-15 ton per hektar.  Untuk merangsang pertumbuhan daun, tambahkan urea 250 kg per hektar setiap tahun. Pupuk yang mengandung fosfor dan kalium tidak terlalu diperlukan, sehingga jarang diberikan. Untuk meningkatkan produksi, disemprotkan pupuk daun, seperti vitabloom, dengan dosis 1%.

Parit pengairan dibuat di pinggir tiap barisan tanaman. Gunanya untuk mempermudah pemberian air di musim kemarau serta mengurangi kelebihan air pada musim penghujan. Air yang tergenang berpengaruh buruk karena dapat merusakkan akar dan menyulitkan pernapasan.

Rabu, 13 Februari 2013

Penanaman Murbei

Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Ini dilakukan karena tanaman muda kurang mampu bertahan di musim kemarau. Kelembapan dan jumlah air yang cukup di musim hujan penting untuk membantu pertumbuhan tanaman.

Penanaman murbei di daerah tropis tidak terlalu dipengaruhi oleh arah terbit atau tengelamnya matahari. Penanaman tidak harus searah barisan barat-timur seperti perkebunan tanaman lainnya. Yang penting adalah arah barisan penanaman dengan arah angin Bila barisan tanaman serah dengan arah angin, maka akan membantu pertumbuhan, sehingga lebih kokoh dan kuat.

Untuk lahan yang baru dibuka, tanah sebaiknya dibersihkan dulu dari sisa-sisa tunggul, akat tanakan atau batu-batuan. Bila tanah ber-pH rendah (di bawah 7), maka tindakan pengapuran perlu dilakukan agar tanah menjadi netral atau agak basa seperti yang dibutuhkan murbei.

Langkah-langkah penanaman murbei dilakukan sebagai berikut. Pertama, lahan yang akan ditanami dibajak atau digemburkan. Pada tanak tersebut dibuat lubang berukuran 40 x 40 x 50 cm paling tidak 2 bulan sebelum tanam. Setiap lubang diberi pupuk kandang, lantas ditutp dengan sedikit tanah. Jumlah pupuk kandang yang dibutuhkan adalah 10-15 ton untuk setiap hektar lahan.

Setelah lubang siap, maka bibit setek siap ditanamkan. Dalam satu lubang umunya hanya ditanam satu bibit, walau sebenarnya mungkin sampai empat bibit. Bila demikian, jumlah tanaman murbei akan jauh lebih banyak dan daun yang dipanen juga bertambah jumlahnya menjadi beberapa kali lipat. Untuk penanaman lebih dari satu bibit setiap lubang, perlu pupuk ekstra.

Jarak tanam murbei banyak memiliki variasi, tergantung monokultur atau tumpangsari, hendak dipangkas rendah, sedang atau tinggi, juga maksud penanaman. Jarak tanam murbei untuk pakan ulat besar berbeda dengan untuk pakan ulat kecil.

Umumnya murbei ditanam secara bikultur bersama kacang-kacangan atau palawija. Akan tetapi, tanaman kacang-kacangan lebih baik digunakan karena bisa membantu menambah kandungan nitrogen yang dibutuhkan oleh murebai. Apabila murbei hendak ditumpangsarikan, maka jarak tanamnya harus lebih lebar. Jarak antar tanaman murbei 0,5-1 meter dan jarak antar barisan 2 m. Di antara barisan tanaman murbei dapat ditanami kacang-kacangan.

Bila murbei hendak dipangkas rendah, maka jarak tanamnya bisa sedikit rapat, yakni 1,8 x 0,9 m. Murbei yang hendak di pangkas sedang, jarak tanam yang digunakan adalah 2 x 1 m. Sedangkan murbei yang hendak dipangkas tinggi, maka jarak tanamnya 2 x 1 m atau lebih.

Hendaknya areal tanaman murbei dibedakan berdasar penanaman atau pakan ulat keci dan pakan ulat besar. Perbandingan yang digunakan 1:6. Maksudnya, setiap luasan tanaman murbei untuk pakan ulat kecil, maka luas tanaman untuk pakan ulat besar enam kali lipat. Misalnya, lahan seluas 1 ha atau 10.999 m persegi, maka lahan untuk pakan ulat kecil seluas 1.428 m persegi dan sisanya ditanami murbei untuk ulat besar.

Rabu, 30 Januari 2013

Pembibitan Tanaman Murbei

Murbei jarang dibibitkan lewat bijinya, sebab terlalu lama untuk mendapatkan daun ndalam jumlah besar. Bibit harus tumbuh sampai batangnya cukup besar dan jumlah daunnya cukup layak untuk dipanen. Tanaman yang dihasilkan lewat biji juga belum tentu mampu menghasilkan produksi daun sebanyak induknya.

Namun bila ingin membibitkan lewat biji, pilihlah biji dari tanaman induk yang baik. Tanaman induk harus tumbuh subur, kuat, produksi daunnya tinggi dan bebas hama penyakit, serta ukuran daunnya lebar-lebar.

Buah murbei yang sudah matang sempurna diambil bijinya. Lantas dicuci dan ditiriskan hingga kering. Anginkan atau biarkan biji-biji murbei selama beberapa waktu agar kadar airnya berkurang. Dari 100 kg buah murbei biasanya diperoleh 3-5 kg biji. Biji tersebut disemai dalam kantung persemaian. Media persemaian sebaiknya tanah yang agak berpasir dan dicampur sedikit pupuk kandang. Bila ingin menyemai biji di tanah, maka tanah diolah atau dicangkul sekitar 25 cm. Campurkan 5 ton pupuk kandang untuk setiap hektar persemaian. Biji ini disebar di tempat persemaian secara merata, lalu di bagian atasnya ditaburi media tipis-tipis.

Pelindung dibuat kan di atas kantung atau tanah persemaian. Untuk mempercepat perkecambahan dan pertumbuhan, perlu dibantu dengan penyiraman. Dari 2-3 gram biji dapat dihasilkan sekitar 400 tanaman murbei muda. Setelah cukup besar, bibit siap dipindah ke kebun.

Perbanyakan vegetatif lebih banyak dilakukan untuk memperbanyak bibit tanaman murbei. Cara yang biasa dilakukan adalah dengan setek. Pohon induk yang hendak diambil seteknya sebaiknya berumur sekitar 12-20 bulan dengan pertumbuhan bagus, bebas hama penyakit, batang tegak, produksi daun tinggi serta ukuran daun lebar-lebar.

Batang atau cabang yang dipilih bergaris tengah 1,5-2 cm. Setek dipotong sepanjang 20-25 cm. Paling tidak dalam setiap setek ada 4-5 mata tunas. Bagian bawah setek diolesi zat perangsang pertumbuhan akar. Contoh zat perangsang pertumbuhan akar yang banyak dipakai para petani dan mudah dicari dipasaran adalah Rootone F.

Seperti halnya bibit dari biji, setek pun bisa disemai dalam kantung atau polybag. Bila menggunakan plastik, buatlah lubang di bagian dasar untuk mengurangi kelebihan air sewaktu penyiraman. Bila hendak menyemai setek di tanah, maka buatkan bedengan. Lebar bedengan 1 meter atau lebih dengan panjang 10 meter atau lebih, sesuai dengan kebutuhan dan panjang lahan. Tanah persemaian digemburkan dan dicampur pupuk kandang. Perbandingan pupuk kandang dengan tanah adalah 1:1. Buatkan juga pelindung di atas bedengan persemaian.

Dalam waktu 2 minggu sesudah penyemaian setek, biasanya sudah mulai muncul tunas. Setek berumur 2-3 bulan di persemaian sudah cukup kuat untuk dipindahkan ke kebun.

Selasa, 29 Januari 2013

Beberapa Jenis Tanaman Murbei

Tanaman murbei yang bergenus morus ada beberapa macam. Jenis-jenis unggul yang biasa ditanam dan diambil daunnya untuk pakan ulat sutera adalah sebagai berikut :
  • Morus alba L ; di luar negeri tanam yang berasal dari China dan Korea ini dikenal dengan nama White Mulberry. Batangnya tumbuh lurus dan ramping, berwarna abu-abu agak kecoklatan. Ujung ranting muda kemerahan, begitu juga tangkai daunnya. Produksi daun termasuk banyak. Daun berbentuk hati, agak membulat pada pangkal, dan pinggirannya bergerigi. Permukaan daun mengkilap. Daun lemas dan tidak keras.
  • Morus cathayana ; Dibandingkan Morus alba, Morus cathayana ujung ranting mudanya lebih merah, begitu pula tangkai daunnya. Warna batang cokelat keputihan. Batangnya tumbuh lurus dan agak besar. Produksi daun banyak. Seperti halnya M. alba, M. cathayana memiliki permukaan daun yang mengkilat dan daun yang lemas.
  • Morus multicaulis ; Jenis murbei yang satu ini ujung ranting mudanya tidak berwarna merah melainkan kehijauan. Batangnya berwarna kelabu tua agak hijau. Arah tumbuh batang tegak lurus. Ukuran daun besar-besar dan tidak mudah layu. Produksi daun termasuk tinggi.

Murbei Pakan Ulat Sutera

Daun Murbei biasa diberikan sebagai pakan ulat sutera. Agar usaha budidaya ulat sutera berjalan lancar, maka harus disediakan daun murbei secara kontinu. Cara bertanam yang terencana penting untuk dapat memasok daun murbei secara teratur.

Karena makanannya hanya daun murbei, maka usaha pemeliharaan ulat sutera sangat tergantung kepada tanaman ini. Thaun 1991, di daerah Lampung dicoba memberi makan ulat sutera dengan daun singkong. Sampel ulat yang dipelihara dengan pakan daun singkong ternyata bisa hidup normal, menghasilkan kepompong, menjadi serangga dewasa dan mampu bertelur. Namun, terobosan yang dilakukan oleh BPP Teknologi Lmpung ini baru dalam tahap penelitiab. Bila langkah ini ternyata berhasil, maka kegiatan pemeliharaan ulat sutera akan lebih gampang. Daun singkong yang banyak terdapat di Indonesia, bahkan sampai dibuang-buang, dapat dimanfaatkan sebagai pengganti daun murbei.

Produksi daun murbei di Indonesia sangat rendah, sekitar 6 ton/ha/th. Sebenarnya produksi yang baik bisa mencapai 18 ton/ha/th. Hasil daun yang dianggap cukup paling tidak 9 ton/ha/th.

Tanaman murbei tidak menuntut persyaratan ketinggian tempat tertentu, sebab ketinggian berapa pun murbei bisa tumbuh, dari nol sampai lebih dari seribu meter dpl.  Krenannya, di beberapa tempat di Indonesia banyak ditemukan murei tumbuh secara liar.  Ulat sutera lebih cocok berkembang biak di tempat yang beriklim sejuk, sehingga murbei paling ideal ditanam pada ketinggian 400-800 meter dpl. Derah yang mempunyai temperatur rata-rata 21-23 derajat celsius sangat cocok untuk murbei. Tanah sebaiknya memilih pH di atas 6, teksturnya gembur, ketebalan lapisan olah paling tidak 50 cm. Tanah yang subur tentu akan memberikan dukungan pertubuhan yang baik. Walaupun begitu, tanah yang kurang subur bisa dibantu dengan dosis pemupukan yang tepat.

Bila menanam murbei harus diketahui "pantangannya". Jangan menanam tembakau di dekat lahan, jaraknya harus lebih dari 100 meter. Racun dan bau pada tembakau dapat berpengaruh terhadap daun murbei sehingga ulat bisa keracunan. Selain tembakau, tanaman lain yang memiliki senyawa racun adalah cabai.

Lokasi penanaman murbei sebaiknya daerah yang belum tercemar. Jauh dari aliran sungai yang mengandung limbah pabrik. Pohon-pohon yang tinggi, gedung-gedung atau pepohonan rimbun krang baik bila terdapat di sekitarnya. Lahan yang baik untuk ditanami murnei adalah lahan terbuka dan mendapat sinar matahari penuh.

Jumat, 05 Oktober 2012

Daun Murbei, Tak Hanya Makanan Ulat Sutra Tapi juga Kaya Manfaat

Tak pernah disangka, bahwa ternyata dedaunan yang satu ini tak hanya disukai ulat sutra, namun juga ampuh usir asam urat. Daun bebesaran atau nama lain dari daun murbei (Morus alba) berasal dari negeri Cina tumbuh di dataran tinggi seperti di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Selain itu juga tumbuh di lereng gunung yang banyak terkena sinar matahari seperti di Temanggung dan Jepara. Tinggi pohon murbei berkisar antara 5 sampai 9 meter, berdaun hijau lebar dan memanjang. Tanaman murbei dapat berbunga sepanjang tahun. Buah yang muda berwarna hijau, yang tua berwarna merah dan rasanya asam. Buah yang sudah matang berwarna hitam dan rasanya manis. Tanaman ini diperbanyak dengan cara stek dan okulasi.

Awalnya tanaman ini ditanam untuk memenuhi kebutuhan pakan ulat sutra, namun seiring perkembangan waktu ternyata tanaman ini juga memiliki khasiat untuk kosmetik dan sebagai tanaman kesehatan. Karena menurut penelitian daun murbei ini banyak mengandung bioaktif dan berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Untuk mengobati penyakit, yang digunakan adalah bagian daun, ranting, buah, dan kulit akarnya. Daun murbei muda berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi, merangsang produksi ASI, mempertajam penglihatan, dan baik untuk pencernaan. Buahnya (Sang-shen) sangat bermanfaat untuk meningkatkan sirkulasi darah, mengatasi sukar tidur, batuk berdahak, pendengaran kurang, sembelit pada orang tua, sakit tenggorokan, memperkuat ginjal, sakit otot dan kurang darah. Kulit akarnya (Sang-bai pi) untuk obat sesak napas (asma), muka bengkak, kencing nyeri dan sakit gigi. Sedang rantingnya (Sang-zhi) untuk mengatasi rematik, sakit pinggang, kram, tekanan darah tinggi dan menyuburkan pertumbuhan rambut.

buah murbei
Sifatnya yang diuretik (peluruh kencing) ini juga berkhasiat untuk menurunkan kadar asam urat yang berlebihan, mengatasi penyakit diabetes mellitus, kolesterol tinggi, sakit kulit, kaki gajah, sakit kepala, batuk, demam, dan malaria. “Konsumsi murbei ibarat membersihkan badan untuk membersihkan kotoran yang menempel di badan. Daun murbei yang diseduh seperti teh dapat membersihkan racun yang ada dalam tubuh”, ujar Ahmad Fauzi Skep.NS, praktikus kesehatan dan perawat dari Dinas Kesehatan Kediri, Jawa Timur. Beliau menambahkan daun murbei memiliki sifat detoksifikasi tinggi yang mampu menetralisir racun yang mengendap baik dalam darah maupun ginjal.

Daun murbei mengandung ecdysterone, inokosterone, lupeol, beta-siterol, moracetin, isoquesetin, scopolin, scopoletin, alfa, beta-hexenal, eugenol, linalool, benzyl alkohol, butylamine, acetone, trigolline, choline, adenin, asam amino, copper, zinc, vitamin (A, B1, C dan karoten), asam klorogenik, asam fumarat, asam folat,dan phytoestrogens.

Zhen Ou Yang dan rekan dari School of Biological and Environmental Engineering Jiangsu University, Zhenjiang, Cina menambahkan daun murbei juga mengandung flavon, alkaloid, polisakarida, sterol, minyak volatil, asam amino, vitamin dan senyawa mikro lainnya yang memiliki aktivitas farmakologi. Seperti flavon yang merupakan antioksidan berperan dalam menghambat oksidasi xantin menjadi asam urat.
Nah, kini tak perlu ragu lagi dengan sederet manfaat dari tanaman murbei ini. Semoga bermanfaat
Sumber:
http://honeyizza.wordpress.com

Kamis, 04 Oktober 2012

Budidaya Ulat Sutera, Murbei & Peluang ekonominya.

Tidak saya lupakan. Pada suatu siang pulang sekolah, dengan membawa sekeranjang daun murbei, saya mendapatkan puluhan ulat sutera yang dipelihara dengan penuh kasih dan harapan, mati bergelimpangan, di kerumuni beribu-ribu semut. Ya ampun! malapetaka apakah yang lebih menyedihkan seorang murid kelas 5 Sekolah dasar, selain kematian hewan-hewan piaraan yang begitu di sayang?

Lagipula, ulat sutera murbei Bombyx mori itu sudha memberikan harapan akan menghasilkan kokon warna-warni. Bukan hanya kuning (seperti umumnya); tapi juga biru, hijau muda, putih, orange dan ungu. Sekarang Sebagian besar mati, mengenaskan, di mangsa ribuan semut. Itulah hama nomor satu bagi petani ulat sutera, selain tikus, burung, dan cecak.

Belum ada petunjuk bahwa untuk memelihara ulat sutera perlu rumah yang bersih, disemprot formalin dan desinfektan. Kelembabannya pun harus di jaga dengan karung-karung basah, dan seterusnya. Balai benih dan pusat-pusat pelayanan pengembangan ulat sutera belum menjamur seperti sekarang.

Sekarang, pemeliharaan ulat sutera sudah berkembang di mana-mana. Kalau kita baca di situs BDSP (Business Development Service Provider), di kabupaten Bogor, Ciamis, Tasikmalaya, dan seputarnya saja puluhan lembaga berurusan dengan ulat sutera. Ada koperasi petani pengrajin Ulat sutera (Koppus) Sabilulungan. Ada pengerajin sutera Priyangan, Persuteraan Cibeureum, dan puluhan lagi. Semua berdedikasi tinggi. Ada yang baru aktif setelah 2000-an, namun ada yang berpengalaman sejak 1970-an.

Bahkan ada yang lebih berpengalaman lagi, seperti industri sutera alam yang di pelopori oleh Aman Sahuri, di Garut sejak 1961. Sekarang usaha itu berkembang, menampung lebih dari seratus karyawan dan menghasilkan sekitar 5.000 meter kain sutera dalam sebulan. Tanpa di dukum petani yang ulet dan berproduksi rutin, mustahil perusahaan dengan peralatan yang cukup lengkap itu bisa memasok produknya ke Bandung, Jakarta, bahkan Bali. Jangan lupa, ia hanya salah satu di antara hampir seratus lembaga yang terkait dengan persuteraan di Indonesia.

Di daerah-daerah beriklim lembab, termasuk Temanggung (Jawa Tengah), Soppeng dan Bili-bili (Sulawesi Selatan) terkenal sebagai penghasil ulat sutera sampai sekarang. Sejarah menunjukkan, sudha lama ulat sutera tidak hanya penting bagi perekonomian negara besar (India, China, Jepang) tapi juga petani kecil di pedesaan.

Berapa nilai ekonomi satu kilogram sutera mentah? harga normal berkisar antara Rp. 25.000 sampai Rp.30.000. Nanun kalau anjlok bisa tinggal Rp. 17.500. Itu terjadi akibat serangan virus pebrine, yang membuat peternakan ulat sutera di bandung terpuruk awal 2005. Akibatnya? industri sutera di Jawa Barat jadi semakin tergantung pada baha mentah dari China. Harga benang sutera olahan impor bisa Rp. 310.000,- per kg, sednagkan benang sutera olahan kepompong lokal hanya Rp. 240.000,-.

Meskipun begitu, cukup menggiurkan petani. Hitung saja, dengan modal 1 box berisi 25.000 telor benih berharga Rp. 60.000,- dalam waktu 25-32 hari petni dapat memanen hingga 20 kg kopompong sutera mentah. Tidak perlu lahan luas, cukup 20-50 meter persegi. Pakan yang diperlukan sekitar 700 kg daun murbei segar. Bila pemeliharaannya baik, menurut Rudi Wahyudin, pakar agrotek dari Institut Pertanian Bogor (IPB), panen bisa di tingkatkan hingga 40 kg. Tergantung pada bibit, pakan, cuaca, dan konstruksi rumahnya.

Nah, rumah untuk inilah yag perlu modal. Satu rumah ulat idealnya perlu biaya Rp. 20 juta.
Padahal peternakan ulat sutera sesungguhnya multiguna. Ia bisa berfungsi ekologis- melestarikan alam dan industri ramah lingkungan. Bisa juga bernilai ekonomis dan sekaligus susio-kultural. Kain sutera membuka kegiatan sosial bernilai budaya tinggi dan berdampak langsung pada kesehatan. Serat sutera bersifat higroskopis, menghalangi terpaan sinar ultraviolet, menjaga kekenyalan kulit, dapat di manfaatkan sebagai bahan kosmetik maupun industri pengobatan.

TEH MURBEI DAN EKOLOGI

Penulis diktat Budidaya Ulat Sutera, Mien Kaomini, mengingatkan, perkebunan murbei juga memberikan produk sampingan yang bernilai ekonomi maupun ekologi. Pertama murbei mengandung banyak bioaktif sehingga dapat digunakan sebagai obat alternatif berupa teh daun murbei. Kedua: buahnya dapat dikonsumsi. Sedangkan ketiga: batangnya dapat digunakan untuk media bertanam jamur. Menurut aktifis Kelompok Peneliti Persuteraan dari Bogor itu, limbah peternakan sutera dapat di proses menjadi hasil ikutan antara lain klorofil dari kotoran ulat, serbuk larva, protein pupa, serbuk sutera.

Jadi produk utama adalah daun, buah dan kayu murbei. Di Nepal, pemerintah mendistribusikan bibit murbei sebagi langkah pertama untuk mengembangkan industri sutera. Dalam tahun 2004; misalnya, tak kurang dari satu juta bibit murbei dibagikan di seluruh negeri, guna mengejar target produksi 6.000 kg kokon atau kepompong. Para petani di lereng Himalaya itu percaya bahwa budidaya ulat sutera sangat cocok di lahan-lahan terjal. Jangan heran kalau 180 petani dengan 9 perkebunan murbei dapat menghasilkan 600 kg sutera mentah dalam setahun.

Thailand juga menggunakan perkebunan dan penenunan sutera rakyat sebagai atraksi pariwisata. Pada akhir november hingga awal desember biasa diadakan festival sutera di desa-desa yang menghasilkan kepompong. Begitu juga di Vietnam. Peternakan ulat sutera relatif tidak memerlukan tempat luas. Kandang ulat yang memerlukan lembar-lembar bambu dapat disusun. Wisatawan bisa menikmati mulai dari pemeliharaans ampai proses produksi, pemintalan benang dan penenunan kainnya.

Masalahnya di Indonesia, lahan murbei belum cukup tersedia, bibit ulat sutera sudah melimpah. Akibatnya ulat menetas dan kurang pakan. Satiap satu boks telur ulat, paling sedikit perlu 50 meter persegi kebun murbei. Dan itu harus ditanam dulu. Kalau ulat kurnag pakan, lama sekali baru mau bikin kepompong. Yang biasanya 25 hari sudah memintal benang kepompong, bisa jadi 40 hari. Hasilnya pun tipis dan tidak optimal. Jadi, kebun murbei perlu di kembangkan, sekaligus sebagai sarana penghijauan ditebing-tebing sungai. Itulah yang membuat industri ulat sutera di Temanggung berjalan kencang.

Pohon murbei yang bernama latin Morus alba L dan Mandarin, Sang ye, tidak hanya disukai ulat sutera, tapi juga bermanfaat bagi manusia. Daun mudanya enak di sayur, berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi, memperbanyak susu ibu, membuat pengelihatan lebih terang, dan meluruhkan kentut. Buahnya, dalam bahasa mandarin disebut sang shen, bermanfaat untuk memperkuat ginjal dan meningkatkan sirkulasi darah. Paling praktis, buah murbei adalah pencahar, untuk menghilangkan sembelit dan mengatasi gangguan pencernaan. Di Tiongkok, orang percaya buah murbei dapat mempertajam pendengaran.

Kulit pohon murbei juga biasa di jadikan obat. Nama China-nya sang pei pi, dapat mengobati penyakit asma, sesak nafas, muka bengkak dan batuk. Begitu menurut Sinshe Chang, yang membuka toko obat tradisional di Pekalongan, purwokerto, Tegal, dan beberapa kota lain di Jawa Tengah. Ia juga memberikan resep, daun murbei dapat di pakai sebagai obat kalau digigit serangga, atau di tumbuk halus, dipopokkan pada luka. Akarnya bisa direbus sebagai penawar demam.

Di Jawa Tengah, pohon murbei, banyak ditanam di Temanggung dan Jepara. Tingginya, maksimal bisa mencapai 9 meter. Bagi banyak orang tanaman dari Tiongkok ini bisa tampak sebagai perdu, semak-semak atau sekedar pagar. Namun, di Ithaca, New York, Amerika Serikat, saya pernah melihat dan memanjat pohon murbei yang sudah berumur 150-an tahun. Mulberry itu tidak terlalu tinggi, tapi pokoknya hampir sebesar pelukan orang dewasa. Buahnya banyak sekali. Pemiliknya seorang Indonesianis terkemuka, Benedict Anderson!

Pohon itu memberi inspirasi bahwa kalau di pelihara dengan baik dan tidak di tebang, murbei pun bisa besar dan indah. Namun demikian, dalam pengembangan pohon murbei harus di perhatikan faktor ekologinya.
Potensi industri ulat sutera sebenarnya besar. Apalagi jika menyangkut budidaya selendang sutera, batik sutera, benang sutera dan lain-lain, yang pengerajinnya meluas di berbagai pedesaan.

Murbei mungkin tidak pernah menjadi primadona seperti pohon buah merah yang berkibar sebagai berita. Namun, potensinya sebagai bahan farmasi, tidka boleh diabaikan. Demikian juga buahnya, terutama produk sampingannya: ulatsutera. Kalau saja produksi kain sutera mencukupi, harga kain batik dan baju bodo pun tidak perlu melambung tinggi dan sukar di dapat.



sumber: Majalah Trubus.