Tampilkan postingan dengan label Pemeliharaan Ulat Sutera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemeliharaan Ulat Sutera. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Februari 2013

Pemeliharaan Ulat Besar

Yang dimaksud dengan ulat besar di sini adalah ulat sutera yang sudah mencapai instar IV dan V. Instar IV berlangsung sekitar 6 hari, sedangkan instar V berlangsung sekitar 5 hari. Akhir dari instar V adalah berubahnya bentuk ulat menjadi pupa atau kepompong yang diawali dengan pembentukan kokon. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ulat besar ini sama sama dengan pada pemeliharaan ulat kecil. Hanya perlakuannya saja yang berbeda.

Seperti pada pemeliharaan ulat kecil, dalam pemeliharaan ulat besar juga perlu diperhatikan hal-hal seperti persyaratan lingkungan, pemberian pakan, perlakuan pada saat ulat istirahat, serta pembersihan dan perluasan tempat pemeliharaan.

  • Persyaratan lingkungan ; ulat besar membutuhkan suhu dan kelembapan yang lebih rendah dibanding  ulat kecil. Suhu udara 24-26 derajat celcius dengan kelembapan 70-75% sangat baik untuk pemeliharaan ulat besar. Selain suhu dan kelembapan, ulat besar menuntut sirkulasi udara yang lancar. Mudah dipahami, karena semakin besar tubuh ulat kebutuhan akan oksigen semakin besar pula. Disamping itu, pengeluaran zat-zat yang tidak berguna, seperti CO2, juga semakin banyak. Tanpa sirkulasi yang lancar, udara di tempat pemeliharaan yang sarat dengan ulat menjadi kotor dan lembab. Akhirnya, berpengaruh terhadap kesehatan ulat. Belum lagi ditambah dengan gas yang keluar dari kotorannya.                                                                        Untuk menjaga agar udara tetap bersih, sirkulasi udara harus diatur dengan cara membuka jendela-jendela dalam ruangan. Dalam keadaan seperti ini udara luar dapat masuk menggantikan udara ruangan yang sudah kotor. Pertukaran udara yang lancar akan membuat udara dalam ruangan senantiasa bersih dan dapat menghindarkan ulat dari serangan penyakit yang muncul karena udara kotor.
  • Pemberian Pakan ; Berbeda dengan ulat kecil, ulat besar ini rakus sekali dalam hal makan. Tubuhnya yang lebih besar menuntut jumlah pakan yang lebih banyak. Pada instar IV, tiap boks bibit perlu kira-kira 100 kg daun sedangkan pada instar V sampai berhenti makan, mengokon, sekitar 700 kg daun yang dapat dihabiskan.                                                                             Daun yang diberikan pada ulat-ulat besar berupa lembaran daun yang utuh berikut rantingnya. Jadi berat daun di atas merupakan berat daun di tambah ranting. Semua daun bisa diberikan asal masih segar dan berasal dari umur pengkasan 2,5-3 bulan.
  • Perlakuan pasa saat ulat istirahat ; Ulat instar V dan V mengalami satu kali istirahat, yaitu menjelang terjadinya pergantian kulit yang keempat atau terakhir. Pada waktu ulat mencapai instar IV dan V dilakukan dua kali desinfeksi, yaitu pada awal instar IV saat ulat baru bangun dari istirahat dan pada awal instar V setelah ulat menyelesaikan pergantian kulit yang terakhir.            Cara desinfeksi dari jenis desinfektan yang diberikan sama seperti pada ulat kecil, hanya persentase serbuk kaporit atau formalinnya yang berbeda. Untuk desinfeksi ulat besar, perbandingan antara serbuk kaporit atau formalin dengan kapur adalah 10% serbuk kaporit atau formalin dan 90% kapur. Desinfektan ini diberikan sebanyak 4 gr/0,1 meter persegi untuk instar IV dan 5 gr/0,1 meter persegi untuk instar V.                                                                          Seperti pada pemeliharaan ulat kecil, apabila 90& ulat telah tidur, pemberian makan supaya dihentikan dan dilanjutkan kembali setelah 80% ulat sudah mulai bangun.
  • Pembersihan dan perluasan tempat ; Semakin besar ulat, tempat pemeliharaannya makin cepat kotor, karena ulat-ulat besar mengeluarkan kotoran jauh lebih banyak dibanding ulat kecil. Karena itu, setiap hari perlu dilakukan pembersihan tempat. Waktu pembersihan sebaiknya pada pagi hari dan cara pembersihannya sama seperti pada ulat kecil.                                                     Selain pembersihan tempat, perlu pula dilakukan perluasan tempat. Selam ulat dalan instar IV dilakukan empat kali perluasan masing-masing menjadi 5,5; 6,5; 7 dan 9 meter persegi. Pada waktu ulat memasuki instar V dilakukan 3 kali perluasan tempat menjadi 12, 14 dan 16-18 meter persegi.

Pembersihan dan Perluasan Tempat pada Pemeliharaan Ulat Kecil

Ulat sutera dipelihara dalam satu tempat yang memungkinkan kotoran, sisa-sisa makanan, dan ulat menjadi satu. Pada saat tertentu, kotoran dan sisa-sisa makanan menumpuk sehingga dapat mengganggu kesehatan ulat. Karenanya, tempat pemeliharaan perlu dibersihkan. Untuk ulat instar I, pembersihan dilakukan sekali, instar II pembersihan dilakukan dua kali dan instar III dilakukan tiga kali. Lebih baik jika pembersihan tempat ini dilakukan saat tempat pemeliharaan sudah terlihat kotoran dan penuh sisa makanan.

Pembersihan tempat dilakukan dengan cara memasang jaring di atas sasak. Di atas jaring diberi daun murbei. Dengan cara ini ulat akan naik ke atas jaring untuk memakan daun murbei yang baru diberikan. Apabila semua ulat telah naik ke atas jaring, jaring berikut daun murbei diangkat. Sasak dibawahnya dibersihkan atau diganti. Setelah sasak bersih, ulat dan daun murbei ditaruh kembali di atas sasak tadi.

Pembersihan tempat dapat pula diikuti dengan perluasan tempat, karena dengan bertambah besarnya ulat, diperlukan tempat yang lebih luas. Pada instar I, ulat membutuhkan tempat sekitar 1 meter persegi, instar II memerlukan kurang lebih 2 meter persegi dan instar III sekitar 5 meter persegi. Ukuran tersebut untuk populasi ulat sekitar 20.000.

Perlakuan pada saat Ulat Kecil Ganti Kulit

Akhir dari masing-masing instar ditandai dengan terjadinya pergantian kulit, kecuali instar V. Menjelang terjadinya pergantian kulit, ulat tidak melakukan aktivitas dan dikatakan ulat sedang istirahat atau tidur. Tanda-tanda dari ulat yang sedang istirahat ini adalah berhenti makan, tidak bergerak dan kepala sedikit diangkat ke atas.

Selama ulat istirahat, pemberian pakan dihentikan. Dalam praktik pemeliharaan, masa istirahat ini tidak terjadi secara serempak. Ada kalanya beberapa ulat sudah istirahat sementara yang lainnya masih rajin makan. Dalam keadaan seperti itu, pemberian makan terus dilakukan, tetapi dengan jumlah yang disesuaikan. Setelah kira-kira 90% ulat istirahat, pemberian pakan dapat dihentikan.

Pemberian pakan dilakjutkan kembali setelah ulat selesai berganti kulit. Selesainya pergantian kulit juga tidak sama. Lagi-lagi ketidak bersamaan ini membuat sedikit kerepotan. Kali ini dalam hal pemberian pakan. Untuk mulai memberi pakan lagi harus ditunggu sampai kira-kira 80% ulat sudah selesai ganti kulit. Ulat yang telah selesai menjalani pergantian kulit, akan melahap makanan yang disediakan.

Kira-kira 0,5-1 jam sebelum pemberian pakan, perlu dilakukan desinfeksi terhadap tubuh ulat. Desinfeksi ini perlu karena kulitnya menjadi lebih peka terhadap serangan penyakit. Desinfeksi dilakukan dengan cara menaburkan campuran 5% serbuk kaporit atau formalin dengan 95% kapur, seperti desinfeksi pada ulat yang baru menetas. Pada stadium ulat kecil ini dilakukan dua kali desinfeksi, yaitu setelah ulat selesai mengalami pergantian kulit yang pertama dan kedua. Masing-masing sebanyak 2 dan 3 gr (campuran kaporit/formalin dan kapur) tiap 0,1 meter persegi.

Minggu, 24 Februari 2013

Pemeliharaan Ulat Kecil

Yang dimaksud dengan ulat kecil adalah ulat yang baru mencapai instar I, II dan III. Masing-masing instar memerlukan waktu sekitar 3 hari. Perubahan dari instar I ke instar selanjutnya ditandai dengan terjadinya pergantian kulit.

Dalam pemeliharaan yang sebenarnya, perhitungan waktu dari masing-masing instar tidak tepat seperti gambaran di atas. Yang pasti, selama pemeliharaan ulat kecil akan mengalami 3 kali istirahat.

Selama berlangsungnya pemeliharaan ulat keci kiranya perlu sekali diketahui hal-hal seperti persyartan lingkungan bagi ulat kecil, pemberian pakan, perlakuan pada saat ulat istirahat, serta pembersihan dan perluasan tempat.

  • Persyaratan Lingkungan ; Pemeliharaan ulat pada instar I dan II, paling baik dilakukan pada suhu ruang 26-28 derajat celcius dengan kelembapan 80-90%. Memasuki instar ke III, suhu tempat pemeliharaannya diusahakan tetap pada suhu 26 derajat celcius dengan kelembapan 80%. Karena ukuran tubuh ulat masih kecil, maka kebutuhan oksigen masih sedikit dan udara kotor saat resparasi juga masih sedikit. Olah karena itu, pengaturan sirkulasi udara di tempat pemeliharaan belum banyak diperlukan.
  •  Pemberian Pakan ; Bagi ulat sutera, makan merupakan aktivitas penimbunan energi guna menghadapi puasa panjang, saat berbentuk pupa atau kepompong. Selain itu, pakan juga akan dibentuk menjadi benang-benang sutera sebagai pelindung pupa. Karenannya, pakan sangat berpengaruh terhadap pembentukan kokon.                                                                           Pakan berupa daun murbei dengan kualitas baik akan membuat kualitas kokon pun semakin baik. Daun murbei  yang diberikan kepada ulat harus segar, bersih dan bebas dari pestisida. Untuk pakan ulat kecil, daun diambil dari umur pangkasan sebulan. Sewaktu ulat masih dalam instar I, daun yang diberikan diambil sampai lembar 4-5 dari pucuk, memasuki instar II sampai lembar 6-7 dan memasuki instar III sampai lembar 7-8 dapat diberikan.                                      Karena ulat masih berukuran kecil, daun yang diberikan sebaiknya terlebih dahulu dirajang. Ukuran rajangan daun untuk instar I, II dan III berturut-turut adalah 0,5-1 cm, 1,5-2 cm, dan 3-5 cm. Ulat instar I kira-kira menghabiskan daun sebanyak 2 kg, instar II membutuhkan 5 kg dan instar III memerlukan 30 kg. Perkiraan kebutuhan pakan ini berlaku untuk pemeliharaan ulat dari satu boks bibit. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang atau malam hari.                                            

Rabu, 20 Februari 2013

Pemeliharaan Ulat yang baru Menetas

Ulat yang baru menetas tergolong ulat kecil. Namun, karena masih mempunyai ukuran yang teramat kecil dengan berat masih mempunyai ukuran kulang lebih 1/10.000 dari berat ulat yang siap mengokon, maka kebutuhan pakannya masih sedikit. Selain itu, belum menuntut tempat yang luas.

Pemeliharaan ulat yang baru menetas dimulai pada pagi hari. Kira-kira dua jam setelah semua telur menetas, kotak tempat penetasan yang sudah penuh dengan ulat-ulat kecil dipindahkan ke atas sasak berukuran kurang lebih 0,5 meter persegi yang diberi alas kertas koran dan kertas parafin. Setelah itu, ulat didesinfeksi dengan campuran kapur dan serbuk kporit atau serbuk formalin dengan perbandingan 95% : 5%. Bahan ini harus dicampur hingga benar-benar rata. Desinfeksi dilakukan dengan cara menaburkan desinfektan tersebut langsung ke seluruh tubuh ulat sebanyak 5 gr untuk satu boks bibit. Aagar bisa merata ke tubuh ulat, penaburan dilakukan dengan menggunakan ayakan halus.

Setengah sampai satu jam setelah desinfektan, ulat-ulat kecil tersebut diberi makan. Untuk ulat kecil yang baru menetas, tiap satu boks berisi kurang lebih 20.000 bibit diperlukan daun murbei sebanyak 100 gr. Daun murbei yang diberikan ini dirajang halus dengan ukuran sekitar 0,5 cm. Daun diambil dari pangkasan berumur satu bulan dan dipilih sampai lembar keempat atau kelima.

Selesai pemberian makan, sasak ditutp dengan kertas parafin. Tujuh jam kemudian sasak dibuka lalu kotak penetasan diambil. Kepadatan ulat dan makanan diratakan dan sasak ditutup kembali. Suhu ruangan diusahakan 27-28 derajad celcius dengan kelembapan 85-90%.

Penetasan Telur Ulat Sutera

Untuk menetaskan telur diperlukan suhu ruang sekitar 24-25 derajat celcius dengan kelembapan 80-85%. Dalam keadaan seperti ini telur akan menetas dalam waktu 10-11 hari. Sebelum telur menetas, akan tampak bintik gelap yang makin meluas ke seluruh permukaan telur sampai akhirnya muncul ulat kecil hitam penuh bulu. Biasanya telur menetas pada pagi hari. Jika ada sebagian yang belum menetas, tentu akan menetas pada pagi keesokan harinya.

Dari ribuan telur yang ditetaskan pasti ada kemungkinan waktu penetasaannya tidak bersamaan. Untuk menyeragamkan waktu penetasan, dapat dilakukan dengan menggelapkan tempat penetasan. Caranya, tempat tersebut ditutup dengan kain atau kertas berwarna hitam. Dalam keadaan gelap, telur yang siap menetas akan tertunda sehingga yang belum siap menetas dapat mengejar waktu penetasannya. Akibatnya, selang waktu tidak terlalu lama.

Pagi hari saat telur akan menetas, tempat penetasan dibuka. Telur dibiarkan mendapat cahaya yang cukup. Adanya cahaya ini akan merangsang ulat keluar dari telur. Apabila baru sedikit telur yang menetas, tempat penetasan ditutup kembali. Keesokan harinya tempat penetasan dibuka kembali. Bila sebagian besar telur sudah menetas, ulat-ulat kecil ini segera dipindahkan ke tempat pemeliharaan yang telah disediakan.


Selasa, 19 Februari 2013

Sterilisasi Ruangan dan Peralatan untuk Pemeliharaan Ulat Sutera

Kebersihan ruangan dan peralatan merupakan salah satu kunci keberhasilan pemeliharaan ulat sutera. Sebenarnya tidak hanya sekedar bersih, tetapi ruangan dan peralatan harus suci hama. Mangapa?, karena meskipun tubuh ulat sutera kelihatan menjijikkan, tetap saja banyak penyakit yang menyerang. Akibat serangan penyakit, pertumbuhan ulat menjadi terganggu bahkan menyebabkan kematian. Oleh karenanya, produksi kokon juga akan terganggu. Selain ruang tempat pemeliharaan dan peraltan, ruangan tempat penyimpanan daun murbei juga perlu diperhatikan kebersihannya.

Usaha menjaga kebersihan ruangan dan peralatan dapat dilakukan dengan sterilisasi. Sterilisasi ini sebagai usaha preventif terhadap serangan penyakit dan dapat menggunakan larutan formalin atau larutan kaporit.

  • Sterilisasi dengan larutan formalin ; larutan formalin yang digunakan adalah larutan yang mempunyai konsentrasi 2-3%. Sterilisasi dilakukan dengan cara menyemprotkan formalin pada dinding, lantai dan peralatan pemeliharaan sampai merata. Setiap 1 m persegi luas ruangan diperlukan 1 liter formalin 2-3%. Segera setelah penyemprotan selesai, ruangan ditutup rapat selama 24 jam dan dibuka kembali kira-kira 24 jam sebelum digunakan untuk pemeliharaan.
  • Sterilisasi dengan larutan kaporit ; cara sterilisasi dengan larutan kaporit sama dengan penggunaan formalin. Dua atau tiga hari sebelum ruangan atau peraltan digunakan untuk pemeliharaan, terlebih dahulu disemprot dengan larutan kaporit 0,5%. Penyemprotan diusahakan merata ke dinding, lantai ruangan dan peraltan yang tahan air. Tiap 1 meter persegi luas ruangan diperlukan 1 liter larutan kaporit 0,5%. Untuk membuat larutan kaporit yang berkonsentrasi 0,5%, dilakukan dengan cara melarutkan 5 gr kaporit ke dalam air sebanyak 1 liter.

Senin, 18 Februari 2013

Pelaksanaan Pemeliharaan Ulat Sutera

Sembilan bulan setelah penanaman, murbei mulai mampu menyediakan daun guna menyuplai kebutuhan pakan ulat. Dengan tersedianya daun sebagai sumber makan, maka kegiatan pemeliharaan ulat sutera dapat segera dimulai. Awal dari kegiatan ini berupa penyediaan bibit.

Selain membeli, seenarnya bibit dapat diproduksi sendiri, namun, untuk melakukannya pengetahuan tentang ulat sutera harus benar-benar dikuasai.

Di Indonesia, bibit yang dianggap unggul merupakan hasil perkawinan ngengat sutera ras cina dan ras jepang. Kedua ras tersebut merupakan jenis bivoltine yang hanya menghasilkan dua generasi dalam satu tahunnya. Apabila kedua ras tersebut dikawinkan, maka telur yang dihasilkan harus mendapat perlakuan  khusus agar dapat menetas. Perlakuan khusus ini sebagai usaha mempercepat penetasan telur. Selain itu, dapat dilakukan penetasan buatan dengan menggunakan asam chlorida (HCl).

Usaha pembibitan sendiri mempunyai risiko yang cukup tinggi jika tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup dan tidak ditunjang dengan peralatan yang memadai. Meskipun telur bisa dihasilkan, tetapi kemungkinan telur-telur tersebut terserang penyakit, pebrine misalnya, tetap tinggi. Jika telur-telur tersebut mengandung penyakit, maka akan berakibat hancurnya usaha pemeliharaan ulat sutera. Bahkan tidak mustahil meluas menghancurkan usaha-usaha sejenis di tempat-tempat yang berdekatan. Aagar lebih aman, sebaiknya pengadaan bibit ini didatangkan saja dari pusat-pusat pembibitan yang memang sudah berpengalaman menangani bibit.

Bibit ulat sutera dijual dalam bentuk telur yang dikemas dalam suatu boks. Setiap boksnya berisi 20.000 butir telur. Bibit ini dapat diperleh di Pusat Pembibitan Ulat Sutera (PPUS) yang di kelola oleh Perum Perhutani. Untuk wilayah Indonesia bagian timur dan tengah, kebutuhan akan bibit dapat dipenuhi oleh PPUS Soppeng, Sulawesi Selatan. Sedangkan untuk Indonesia bagian barat tersedia di PPUS Candiroto, Temanggung, Jawa Barat.

Dengan tersedianya bibit, kegiatan pemeliharaan selanjutnya meliputi sterilisasi ruangan dan peralatan. Setelah itu berturut-turut akan melalui tahap-tahap penetasan telur, pemeliharaan ulat yang baru menetas, pemeliharaan ulat kecil, pemeliharaan ulat besar, serta pengokonan.


Rabu, 10 Oktober 2012

Desinfeksi "Sebuah Tindakan Preventif Penyakit Ulat Sutera"

Hingga saat ini sutera masih merupakan salah satu komoditas andalan di Sulawesi Selatan, untuk itu kelestarian dan kestabilan produksi harus dijaga dengan mengeliminir faktor- faktor penyebab kegagalan usaha persuteraan alam. Diantara beberapa faktor penyebab kegagalan, maka yang paling mendominasi dan sulit diprediksi adalah munculnya berbagai penyakit pada saat pemeliharaan ulat sutera, bahkan sering terjadi hal tersebut tidak muncul pada fase awal pemeliharaan ulat tetapi muncul pada saat ulat menjelang mengokon yang dapat dikatakan sebagai periode akhir dalam pemeliharaan ulat sutera.Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan suatu tindakan preventif yang berupa tindakan desinfeksi sebelum, selama dan setelah pemeliharaan ulat sutera berlangsung.


II . TAHAP PELAKSANAAN DESINFEKSI
A. Desinfeksi Sebelum Pemeliharaan
Sebelum periode pemeliharaan dimulai, sambil menyiapkan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan, maka salah satu kegiatan yang sangat penting dilaksanakan adalah desinfeksi yang berupa:
- Desinfeksi rumah ulat/ruangan pemeliharaan
- Desinfeksi alat- alat pemeliharaan

1. Desinfeksi rumah ulat atau ruangan pemeliharaan.
Desinfeksi rumah ulat atau ruangan pemeliharaan sebaiknya dilakukan seminggu sebelum pemeliharaan ulat dilaksanakan agar sisa atau residu bahan desinfektan yang digunakan tidak berpengaruh ke ulat mengingat ulat sutera sangat peka terhadap keadaan lingkungan. Terlebih bila tempat yang digunakan untuk memelihara ulat tersebut telah digunakan pada periode sebelumnya, kendati tidak ada serangan penyakit terlebih bila terdapat serangan hama atau penyakit maka harus betul-betul dibersihkan dengan jalan desinfeksi secara menyeluruh dan intensif. Tindakan desinfeksi perlu dilakukan agar bibit penyakit pada periode sebelumnya tidak menjadi sumber inokulum pada periode pemeliharaan selanjutnya. Desinfeksi dapat dilakukan dengan penyemprotan larutan formalin 2% atau kaporit. Penyemprotan dilakukan untuk membasmi bibit penyakit virus, bakteri dan cendawan baik yang ada dilantai, dinding maupun langit-langit ruang pemeliharaan. Untuk desinfeksi bagian dalam dari ruang pemeliharaan diperlukan kira-kira 3 liter larutan untuk 3,3 m2 luas lantai (Atmosoedarjo dkk, 2000). Hal ini perlu diperhatikan sebab walaupun desinfeksi diterapkan tetapi bila pelaksanaanya kurang tepat, maka tidak memusnahkan sumber inokulum malah dapat menyebabkan hama atau penyakit menjadi resisten.

2. Desinfeksi alat-alat pemeliharaan
Untuk desinfeksi alat pemeliharaan seperti sasag pemeliharaan, keranjang, tempat penyimpanan daun, pisau daun, baskom, ember, alat pengokonan dsb, yang akan bersentuhan langsung dengan ulat atau daun murbei sebaiknya dilakukan dengan metode pencelupan dengan menggunakan kaporit yang dilarutkan 200 kali dalam drum atau bak penampungan. Pencelupan dilakukan selama 30 menit, sesudah itu alat-alat tersebut dikeringkan. Khusus peralatan atau benda-benda yang terbuat dari kayu atau bambu dimana hypa cendawan Aspergillus dapat menembus jauh ke bagian dalam benda-benda tsb, maka metode semprot kurang efektif dan sebaiknya menggunakan metode pencelupan.

B. Desinfeksi Saat Pemeliharaan

Beberapa jenis desinfeksi yang penting dilaksanakan pada saat pemeliharaan adalah:
1. Desinfeksi tangan sebelum memulai pekerjaan
Bagi pemelihara ulat sutera sebelum memulai aktivitas pekerjaan dalam pemeliharaan ulat sebaiknya diperhatikan kebersihan badan dan pakaian terutama tangan yang bersentuhan langsung dengan ulat, murbei, maupun peralatan yang digunakan. Pembersihan tangan dapat dilakukan dengan air bersih lalu dicelup ke dalam larutan kaporit.

Hal ini sangat penting dilaksanakan untuk mencegah agar hama dan penyakit maupun bahan lain misalnya wangi-wangian terbawa pada saat pemeliharaan ulat, terutama ulat kecil yang sangat peka sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat menyebabkan pemeliharaan ulat sutera mengalami kegagalan. Terlebih bila tenaga pemelihara ulat terbatas dalam artian disamping melaksanakan kegiatan kebun seperti pengambilan daun juga melaksanakan pekerjaan di rumah ulat seperti pemberian pakan. Keadaan ini sangat memungkinkan bahwa bibit penyakit dari kebun terbawa masuk ke ruang pemeliharaan melalui pakaian ataupun tangan si pemelihara.

2. Desinfeksi tubuh ulat sutera
Desinfeksi tubuh ulat sutera dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan berbagai macam penyakit pada saat pemeliharaan berlangsung.
Beberapa tahap penting pemberian desinfektan pada tubuh ulat sutera antara lain:
- Penetasan/Hakitate
Hakitate adalah kegiatan pemberian makan pertama saat ulat baru menetas. seperti diketahui bahwa ulat yang baru menetas sangat peka dan rentan terhadap berbagai penyakit, untuk itu desinfeksi tubuh ulat sangat perlu dilakukan sebelum pemberian makan, hanya perlu diperhatikan bahwa pemberian desinfektan sebaiknya dilakukan pada saat menjelang pemberian pakan atau penetasan ulat sudah seragam agar hasilnya bisa maksimal dan pertumbuhan ulat seragam.

- Tidur atau istirahat
Pada saat ulat sutera tidur atau istirahat maka aktifitas makan terhenti untuk beberapa waktu tergantung instar pertumbuhannya. Biasanya menjelang periode tersebut sisa makanan tidak sempat dibersihkan jadi ulat sutera tidur diantara makanan yang tersisa. Pemberian desinfektan penting untuk dilakukan dengan tujuan memberi perlindungan bagi tubuh ulat terhadap berbagai serangan penyakit serta mengeringkan daun sisa makanan yang tertinggal agar tidak termakan pada saat setelah berganti kulit. Desinfektan yang lazim digunakan pada saat tersebut adalah kapur, dimana bahan ini mudah menyerap air sehingga dapat mengurangi kelembaban yang dapat memacu pertumbuhan penyakit. Bahkan dikalangan pemerhati sutera dikenal istilah “ Tidur kapur bangun kaporit” yang maksudnya pada saat tidur diberi desinfektan kapur dan setelah berganti kulit atau bangun diberi kaporit.

- Bangun/ berganti kulit
Pada saat baru bangun tidur atau berganti kulit ulat sutera melepaskan kulit lama sehingga biasanya kulit baru masih lembek, pada periode tersebut kondisi ulat sangat lemah dan mudah terserang penyakit. Pemberian desinfektan perlu dilakukan sebelum pemberian makan, hal ini penting diperhatikan sebab penularan penyakit dari daun ke tubuh ulat sangat mungkin terjadi lewat pakan, karena infeksi virus kebanyakan terjadi karena pemberian pakan dengan daun murbei yang mengandung virus (Tanada dan Kaya, 1993) dalam (Budisantoso dan Nurhaedah, 1999).

C. Desinfeksi Setelah Pemeliharaan
Setelah berakhir satu periode pemeliharaan ulat sutera yang ditandai dengan panen kokon, maka semua peralatan yang digunakan pada saat pemeliharaan berlangsung harus segera dibersihkan, selanjutnya dilakukan desinfeksi secara menyeluruh baik rumah ulat, peralatan maupun pekarangan sekitar rumah ulat.

III. PERANAN DAN PELAKSANAAN DESINFEKSI PADA PEMELIHARAAN ULAT SUTERA
Desinfeksi dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya penyakit baik di dalam maupun diluar ruangan pemeliharaan, terutama penyakit yang disebabkan oleh cendawan sebab spora cendawan sangat mudah menyebar melalui perantaraan angin. Disamping itu juga berfungsi untuk melindungi ulat sutera dari serangan berbagai macam penyakit baik virus maupun bakteri. Tindakan desinfeksi harus dilaksanakan sedini mungkin dimulai sejak ulat baru menetas atau sebelum hakitate, bahkan pada saat instar ke IV sampai menjelang mengokon sebaiknya dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan kecuali saat istirahat. Hal ini diperlukan sebab semakin tinggi pertumbuhan ulat pemberian pakan semakin banyak sehingga intensitas penularan penyakit lewat patogen pakan lebih banyak. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Saing dan Sumirat (1997) yang menunjukkan bahwa, tingkat mortalitas ulat bertambah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan ulat sutera.Desinfeksi ulat sutera dapat dilakukan secara fisik dan kimiawi. Desinfeksi secara fisik dapat dilakukan dengan menggunakan cahaya matahari, air mendidih dan uap air (Lee Y.K. 1995) sedang kimiawi berupa: kapur, kaporit dan formalin.

Pelaksanaan desinfeksi secara fisik dengan sinar matahari disamping murah juga mudah dilaksanakan, hanya memerlukan waktu yang lama karena tergantung pada keadaan cuaca dan bila musim hujan hal ini tidak dapat dilakukan, juga untuk alat-alat yang terbuat dari bambu atau kayu metode ini tidak efektif sebab hypa cendawan dapat menembus jauh ke bagian dalam sehingga kemungkinan tidak terjangkau. Untuk peralatan yang kecil seperti pisau, kuas dapat dilakukan dengan air mendidih atau uap air. Desinfeksi secara kimiawi dengan menggunakan kapur, kaporit dan formalin memerlukan waktu yang tidak terlalu lama dan hasilnya lebih efektif, namun memerlukan biaya yang lebih mahal. Pelaksanaan dapat dilakukan melalui metode pencelupan untuk alat pemeliharaan seperti pisau daun, baskom dan alat pengokonan juga dapat dilakukan dengan penyemprotan untuk ruangan pemeliharaan serta penaburan untuk tubuh ulat dengan menggunakan ayakan.

Dengan demikian desinfeksi disini dapat berfungsi memberi ketahanan tubuh pada ulat sutera agar terhindar dari berbagai serangan penyakit dan faktor lain yang dapat menyebabkan kematian ulat.Untuk memperoleh hasil yang maksimal maka dalam pelaksanaan desinfeksi ini perlu diperhatikan aspek teknis meliputi ketepatan waktu, bahan dan dosis yang digunakan agar layak secara ekonomi dan juga aman bagi ekologis, serta efektif bagi target sasaran (Hidayat, 1985).

Dengan tindakan desinfeksi diharapkan serangan penyakit pada pemeliharaan ulat sutera tidak menimbulkan kerugian ekonomis dan produksi kokon dapat dipertahankan. Hasil penelitian Anwar (1989) dalam Atmosoedarjo, dkk (2000) menunjukkan dengan perlakuan desinfeksi pada ruang, alat dan tubuh ulat sutera menghasilkan kokon sebesar 27,417 kg kokon/box sedangkan tanpa perlakuan desinfeksi hanya sebesar 19,533 kg kokon/box.

IV. PENUTUP
Penerapan/pelaksanaan desinfeksi di petani masih menghadapi berbagai kendala antara lain: biaya, peralatan, dan pengetahuan tentang hal tersebut. Kendala ini sangat penting diatasi sehubungan dengan upaya untuk mengeliminir serangan penyakit dan menjaga keseimbangan dan stabilitas produksi sutera alam. Dan tentunya hal tersebut berdampak pada petani baik langsung maupun tidak langsung seperti pendapatan dan minat untuk mengusahakan komoditas tersebut.

DAFTAR PUSTAKA


Atmosoedarjo, J. Kartasubrata, M. Kaomini, W.saleh, W.Moerdoko, 2000. Sutera Alam Indonesia. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.

Lee, Y.K. 1995. Desinfection of Rearing Room and Appliances. In Principles and Practices in Sericulture. National Sericulture and Entomology Research Institute, Korea.

Saing M dan B. Sumirat, 1997. Efikasi berbagai jenis desinfektan terhadap penyakit Aspergillus (Aspergillus. spp.) pada ulat sutera. Buletin Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.

Nurhaedah dan Budisantoso, 1999. Pengendalian penyakit Nucleus Polyhedrosis Virus pada ulat sutera dengan beberapa jenis desinfektan. Prosiding Balai Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.

Jumat, 28 September 2012

Pemeliharaan Ulat Sutra

Salah satu ciri-ciri kupu-kupu berkelamin jantan adalah fisiknya lebih kecil dibanding kupu-kupu betina. Tugas kupu-kupu jantan adalah membuahi sang betina. Sedikitnya butuh waktu dua jam untuk perkawinan yang produktif. Usai pembuahan, enam jam kemudian kupu-kupu betina bertelur. Setiap kupu-kupu betina biasanya mampu bertelur hingga 500 butir. Namun, siklus hidup ulat betina lebih pendek. Sedangkan ulat jantan mampu kawin hingga tiga kali, sebelum akhirnya mati.

Dibutuhkan ruang gelap untuk penetasan telur sutera. Bayi-bayi ulat berumur sehari membutuhkan pakan daun murbei muda dan suhu udara yang lembab. Sepanjang perjalanan hidup ulat sutera dari mulai periode instar pertama hingga kelima, ulat mengalami empat kali pergantian kulit. Kondisi ini berbarengan dengan perkembangan bentuk tubuhnya yang juga bertambah besar. Sepanjang hari, ulat-ulat sutera terus makan. Sedikitnya diperlukan satu ton pakan daun murbei segar untuk sekitar 25 ribu ulat sutera dalam satu siklus. Sesudah instar ketiga, menjelang instar keempat dan lima, ulat pun tidur.

Pada instar kelima menjelang pengokonan, selama dua hari ulat sutera makan daun murbei tanpa henti. Ketika masa pengokonan tiba, ulat tak lagi makan selama tiga hari. Tubuh ulat menjadi lebih bening saat pengokonan tiba dan bagian mulut mulai mengeluarkan serat. Masa panen pun tiba. Rata-rata tiap kokon, jika telah diolah serat direntang menjadi benang, bisa mencapai panjang hingga 1.000 meter.

Ulat sutera adalah larva dari serangga yang termasuk ordo Lepidoptera yang mengalami metamorfosa sempurna.  Siklus hidup ulat sutera diawali dari telur, kemudian menetas menjadi ulat, pupa dan akhirnya menjadi ngengat yang siap bertelur lagi.  Selama menjadi ulat, merupakan masa makan dan terjadi 4 kali pergantian kulit.

Sebelum terjadi pergantian kulit ulat sutera dinamakan instar 1, instar 2, instar 3, instar 4 dan instar 5,  dan ulat sutera sama sekali berhenti makan, saat ini dinamakan masa tidur atau masa istirahat.  Setelah instar 5 berakhir ulat mengokon untuk berubah menjadi pupa.  Selanjutnya pupa berubah menjadi kupu dan siklus akan berulang dimulai lagi dari telur.

Akibat perlakuan manusia sejak dahulu dengan membudidayakannya, maka sekarang ulat sutera sudah kehilangan sebagian fungsi tubuhnya.  Penciumannya sudah tidak bisa mengenal tanaman murbei dari jarak berapa meter.  Daya pegang kakinya juga sudah lemah, tidak mampu bertahan pada cabang oleh guncangan angin.  Demikian pula kupunya sudah tidak mampu terbang lagi.

Dalam perkembanganya ras sutera yang banyak dibudidayakan dikenal ada 4 jenis yang dapat memproduksi  kokon dan menghasilkan benang sutera berkualitas.  Keempat jenis itu adalah ulat sutera Ras Cina, Ras Jepang, Ras Eropa dan Ras Tropika.

Di Indonesia yang banyak dikembangkan adalah Ras Cina dan Ras Jepang.  Kedua ras ini mempunyai kelemahan dan keunggulan masing-masing. Dalam perkembangannya untuk mendapatkan jenis baru yang lebih unggul, maka di Pusat Pembibitan Ulat Sutera Candiroto dilakukan persilanan dari kedua jenis ini.  Dari hasil persilangan tersebut kelemahan-kelemahannya dapat dikurangi sedangkan sifat unggulnya lebih menonjol. Dengan demikian, belakangan ini telur ulat sutera yang banyak disebar ke petani adalah hasil persilangan ini.

Persuteraan Alam sudah cukup lama dikenal dan dibudidayakan oleh penduduk Indonesia. Mengingat sifat dan menfaatnya, maka Pemerintah melalui Departemen Kehutanan berupaya membina dan mengembangkan kegiatan persuteraan alam tersebut. Budidaya ulat sutera dimaksudkan untuk menghasilkan benang sutera sebagai bahan baku pertekstilan. Untuk melaksanakan pemeliharaan ulat sutera, terlebih dahulu dilakukan penanaman murbei, yang merupakan satu-satunya makanan (pakan) ulat sutera, Bombyx mori L.
Manfaat kegiatan persuteraan alam sebagai berikut :
  • Mudah dilaksanakan dan memberikan hasil dalam waktu yang relatif singkat;
  • Memberikan tambahan pendapatan kepada masyarakat khusunya di pedesaan;
  • Memberikan lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya;
  • Mendukung kegiatan reboisasi dan penghijauan.
Sebelum kegiatan pemeliharaan ulat sutera dimulai, beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti : tersedianya daun murbei sebagai pakan ulat sutera, ruang dan peralatan pemeliharaan serta pemesanan bibit/telur ulat sutera. Kesemua hal tersebut dilakukan dalam skala besar.
Penyediaan Daun Murbei :
  • Daun murbei untuk ulat kecil berumur pangkas ± 1 bulan dan untuk ulat besar berumur pangkas 2-3 bulan;
  • Tanaman murbei yang baru ditanam, dapat dipanen setelah berumur 9 bulan;
  • Untuk pemeliharaan 1 boks ulat sutera, dibutuhkan 400-500 kg daun murbei tanpa cabang atau 1.000 – 1.200 kg daun murbei dengan cabang;
  • Daun murbei jenis unggul yang baik untuk ulat sutera adalah : Morus alba, M. multicaulis, M. cathayana dan BNK-3 serta beberapa jenis lain yang sedang dalam pengujian oleh Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan.
Ruangan Peralatan.
  • Tempat pemeliharaan ulat kecil sebaiknya dipisahkan dari tempat pemeliharaan ulat besar;
  • Pemeliharaan ulat kecil dilaksanakan pada tempat khusus atau pada Unit Pemeliharaan Ulat Kecil (UPUK);
  • Ruang pemeliharaan harus mempunyai ventilasai dan jendela yang cukup:
  • Bahan-bahan dan peralatan yang perlu disiapkan adalah : Kapur tembok, kaporit/papsol, kotak/rak pemeliharaan, tempat daun, gunting stek, pisau, ember/baskom, jaring ulat, ayakan, kain penutup daun, hulu ayam, kerta alas, kerta minyak/parafin, lap tangan dan lain-lain;
  • Desinfeksi ruangan dan peralatan, dilakukan 2-3 hari sebelum pemeliharaan ulat sutera dimulai, menggunakan larutan kaporit 0,5% atau formalin (2-3%), disemprotkan secara merata;
  • Apabila tempat pemeliharaan ulat kecil berupa UPUK yang berlantai semen, maka setelah didesinfeksi dilakukan pencucian.
Pesanan Bibit.
  • Pesanan bibit disesuaikan dengan jumlah daun yang tersedia dan kapasitas ruangan serta peralatan pemeliharaan;
  • Bibit dipesan selambat-lambatnya 10 hari sebelum pemeliharaan ulat dimulai melalui petugas / penyuluh atau langsung kepada produsen telur;
  • Apabila bibit/telur telah diterima, lakukan penanganan telur (inkubasi) secara baik agar penetasannya seragam.
Caranya adalah sebagai berikut :
  • Sebarkan telur pada kotak penetasan dan tutup dengan kertas putih yang tipis;
  • Simpan pada tempat sejuk dan terhindari dari penyinaran matahari langsung, pada suhu ruangan 25 -28 C dengan kelembaban 75-85%;
  • Setelah terlihat bintik biru pada telur, bungkus dengan kain hitam selama ± 2 hari
PELAKSANAAN PEMELIHARAAN ULAT SUTERA
Kegiatan pemeliharaan ulat sutera meliputi pemeliharaan ulat kecil, pemeliharaan ulat besar serta mengokonkan ulat.
  1. Pemeliharaan Ulat Kecil
Pemeliharaan ulat kecil didahului dengan kegiatan “Hakitate” yaitu pekerjaan penanganan ulat yang baru menetas disertai dengan pemberian makan pertama.
  • Ulat yang baru menetas didesinfeksi dengan bubuk campuran kapur dan kaporit (95:5), lalu diberi daun murbei yang muda dan segar yang dipotong kecil-kecil;
  • Pindahkan ulat ke sasag kemudian ditutup dengan kertas minyak atau parafin;
  • Pemberian makanan dilakukan 3 kali sehari yakni pada pagi, siang, dan sore hari;
  • Pada setiap instar ulat akan mengalami masa istirahat (tidur) dan pergantian kulit. Apabila sebagian besar ulat tidur ( 90%), pemberian makan dihentikan dan ditaburi kapur. Pada saat ulat tidur, jendela/ventilasi dibuka agar udara mengalir;
  • Pada setiap akhir instar dilakukan penjarangan dan daya tampung tempat disesuaikan dengan perkembangan ulat;
  • Pembersihan tempat ulat dan pencegahan hama dan penyakit harus dilakukan secara teratur.
Pelaksanaanya sebagai berikut :
  • Pada instar I dan II, pembersihan dilakukan masing-masing 1 kali. Selama instar III dilakukan 1-2 kali yaitu setelah pemberian makan kedua dan menjelang tidur;
  • Penempatan rak/sasag agar tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng berisi air, untuk mencegah gangguan semut;
  • Apabila lantai tidak ditembok, taburi kapur secara merata agar tidak lembab;
  • Desinfeksi tubuh ulat dilaksanakan setelah ulat bangun tidur, sebelum pemberian makan pertama.
Penyalur ulat kecil dari UPUK ke tempat pemeliharaan petani / kolong rumah atau Unit Pemeliharaan Ular Besar (UPUB), dilakukan ketika sedang tidur pada instar III. Perlakuan pada saat penyaluran ulat sebagai berikut :
  • Ulat dibungkus dengan menggulung kertas alas;
  • Kedua sisi kertas diikat dan diletakkan pada posisi berdiri agar ulat tidak tertekan;
  • Penyaluran ulat sebaiknya dilaksanakan pada pagi atau sore hari.
Pemeliharaan Ulat Besar.
Kondisi dan perlakuan terhadap ulat besar berbeda dengan ulat kecil. Ulat besar memerlukan kondisi ruangan yang sejuk. Suhu ruangan yang baik yaitu 24-26 C dengan kelembapan 70-75%.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ulat besar adalah sebagai berikut :
  • Ulat besar memerlukan ruangan/tempat pemeliharaan yang lebih luas dibandingkan dengan ulat kecil;
  • Daun yang dipersiapkan untuk ulat besar, disimpan pada tempat yang bersih dan sejuk serta ditutup dengan kain basah;
  • Daun murbei yang diberikan pada ulat besar tidak lagi dipotong-potong melainkan secara utuh (bersama cabangnya).
  • Penempatan pakan diselang-selingi secara teratur antara bagian ujung dan pangkalnya;
  • Pemberian makanan pada ulat besar (instar IV dan V) dilakukan 3-4 kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore dan malam hari;
  • Menjelang ulat tidur, pemberian makan dikurangi atau dihentikan. Pada saat ulat tidur ditaburi kapur secara merata;
  • Desinfeksi tubuh ulat dilakukan setiap pagi sebelum pemberian makan dengan menggunakan campuran kapur dan kaporit (90:10) ditaburi secara merata;
        • No. Suhu dan Kelembaban Umur Ulat
          ( Hari )
          Jumlah Kebutuhan
          Daun (kg)
          Luas Tempat
          (M2)
          Ket.
          I II
          III
          IV
          V
          26-28 C 80-90%
          26-28 C
          80-90%
          26 C
          80%
          24-26 C
          70-75%
          24-26 C
          70-75%
          2 – 3 3 – 4
          2 – 3
          4 – 5
          6 – 7
          1,5 3,5
          15
          40-50
          350-400
          0,4 m2 1,6 m2
          1,6 m2
          3,2 m2
          3,5 m2
          5 m2
          5 m2
          14 m2
          15-18 m2
          Awal Akhir
          Awal
          Akhir
          Awal
          Akhir
          Awal
          Akhir
          Awal
        • Pada instar IV, pembersihan tempat pemeliharaan dilakukan minimal 3 kali, yaitu pada hari ke-2 dan ke-3 serta menjelang ulat tidur;
        • Pada instar V, pembersihan tempat dilakukan setiap hari;
        • Seperti pada ulat kecil, rak/sasag ditempatkan tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng yang berisi air.
        • Apabila lantai ruangan pemeliharaan tidak berlantai semen agar ditaburi kapur untuk menghindari kelembaban tinggi.
Mengokonkan Ulat.
Pada instar V hari ke-6 atau ke-7 ulat biasanya akan mulai mengokon. Pada suhu rendah ulat akan lebih lambat mengokon. Tanda-tanda ulat yang akan mengokon adalah sebagai berikut :
  • Nafsu makan berkurang atau berhenti makan sama sekali;
  • tubuh ulat menjadi bening kekuning-kuningan (transparan);
  • Ulat cenderung berjalan ke pinggir;
  • Dari mulut ulat keluar serat sutera.
Apabila tanda-tanda tersebut sudah terlihat, maka perlu di ambil tindakan sebagai berikut :
  • Kumpulkan ulat dan masukkan ke dalam alat pengokonan yang telah disiapkan dengan cara menaburkan secara merata.
  • Alat pengokonan yang baik digunakan adalah : rotari. Seri frame, pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapaatau jerami yang dipuntir membentuk sikat tabung).
Masa perkembangan larva ulat sutera berlangsung sekitar 21-26 hari hingga membentuk kepompong/pupa, ulat sutera yang baru keluar dari telur kelihatan kecil-kecil kehitam-hitaman atau coklat gelap kepala besar serta badannya masih tertutup bulu. Pada hari kedua berat dan ukuran tubuh berubah, warnanya kehijau-hijaun dan bulunya seolah rontok, sesudah itu ia akan berhenti makan, memasuki masa istirahat dan diakhiri dengan pergantian kulit, sesudah memasuki instar ke-2, selanjutnya ulat akan memasuki instar ke 3, 4 dan 5, yang semuanya didahuli masa istirahat dan ganti kulit. Pada akhir instar ke-5 biasanya tidak terjadi pergantian kulit tetapi tubuhnya berangsur kelihatan seolah-olah tembus cahaya dan ulat akan berhenti makan. Ulat seperti ini sudah waktunya mengeluarkan serat sutera dan membuat kokon. Ulat yang sudah siap untuk mengokon ini biasanya disebut ulat-ulat yang sudah matang. 

Lama tiap-tiap instar tidak sama. Biasanya yang terpendek ialah instar ke dua kemudian yang pertama, ketiga, keempat dan kelima. Masa istirahat lebih kurang sehari tetapi ini pun tidak sama, yang terpendek adalah masa istirahat instar ke dua, kemudian instar pertama, ketiga dan keempat. Lamanya periode hidup mulai dari saat lahir sampai masa membuat kokon kurang lebih satu bulan, tetapi hal ini biasanya dipengaruhi oleh iklim dan temperatur setempat.

Suhu dan kelembaban memegang peranan secara langsung maupun tidak langsung pada pertumbuhan ulat. Pertumbuhan ulat sutera makin dipersingkat dengan meningkatnya suhu. Didaerah tropis seperti Indonesia, umumnya periode ulat kecil (instar 1-3) berkisar 11-13 hari dengan suhu antara 23-28ºC dan kelembaban antara 83-91% sedang periode ulat besar (instar IV-V) berkisar antara 10-15 hari dengan suhu 23-25ºC dan kelembaban 75-80%.

Apabila suhu rendah dan kelembaban tinggi ditambah dengan keadaan ruangan basah maka ulat-ulat yang akan mengokon akan banyak yang mati di saat pembuatan kokon. Selama jangka waktu tersebut pertumbuhan ulat sutera begitu pesat sehingga bila dibandingkan berat ulat pada saat sebelum mengokon kurang lebih 10.000 kali berat ulat yang baru lahir.
Untuk pertumbuhannya ulat sutera memerlukan air, protein, asam-asam amino, senyawa nitrogen yang bukan protein, karbohidrat, lemak, mineral serta vitamin. Selain itu juga protein juga sangat penting dalam pembentukan fiborin yang menyusun serat sutera.

Banyaknya produksi sutera, kecepatan pertumbuhan dan sifat resistensi terhadap penyakit banyak dipengaruhi oleh nutrisi. Oleh karena itu, pertumbuhan ulat sutera yang dipelihara tergolong tidak maksimal karena banyak ulat yang dipelihara tersebut akhirnya mati. Hal tersebut pula yang menyebabkan jumlah atau persentase ulat yang hidup dari tiap-tiap individu juga berbeda. Menurut Samsijah dan Kusumaputera (1978), kebutuhan utama larva ulat sutera instar I sampai III adalah air dan protein. Pada ulat sutera instar IV dan V memerlukan lebih banyak protein dan karbohidrat terutama untuk pembentukan kelenjar sutera. 

Setelah instar lima berlangsung sekitar satu minggu, nafsu makan ulat akan berkurang dan hanya makan sedikit. Tubuh akan menjadi transparant dan mengecil. Ulat dinamakan sudah matang. Tubuh menjadi transparant karena volume kelenjar sutera meningkat mengisi sebagian besar tubuh. Tanda-tanda ulat matang sebagai berikut: 1) tubuh ulat pendek dan gemuk; 2) segmen dada tembus cahaya; 3) kotoran hijau, lembek dan bentuk tidak beraturan; 4) bergerak mengelilingi rak ulat untuk mendapatkan tempat untuk mengokon; 5) ulat mengangkat kepala dan dadanya dan sebagian mengeluarkan serat dari mulutnya untuk membuat fondasi kokon. Serat yang keluar disebut floss dan biasanya sekitar 1-2% dari bobot kulit kokon.

Kondisi klimat seperti temperatur kelembaban, sirkulasi udara selama masa mengokon akan berpengaruh terhadap kualitas kokon terutama kualitas pintal. Temperatur sebaiknya 22-23ºC dan kelembaban 60-70%.
Pada masa mengokon, disamping memerlukan kelembaban yang rendah, sirkulasi udara juga perlu mendapatkan perhatian karena dengan sirkulasi udara yang tidak baik maka daya gulung menurun dari 90% samapai 54%. Ulat sutera mengeluarkan banyak air pada saat mengokon sampai saat membuat kokon. Dari 25.000 ekor ulat dikeluarkan air sekitar 57 liter yang berasal dari respirasi, urine, kotoran, serat dan lain-lain. Kelembaban ini harus segera dihilangkan. Urine dan kotoran ulat harus dibuang 8-12 jam setelah mengokon, pada saat kokon mencapai lapisan tipis.

Bila mengokon tidak dilakukan pada waktu yang tepat, akan berpengaruh negatif pada kualitas dan kuantitas kokon. Bila terlau cepat, ulat dapat dikokonkan tetapi akan mati dialat pengokonan atau kandungan serat akan rendah menghasilkan daya gulung yang rendah. Sebaliknya bila terlalu matang, sebagian serat akan terbuang. Dalam hal ini akan menurunkan kualitas kokon dalam hal daya gulung, kekuatan serat, warna dan harga yang murah. Untuk alasan ini mengokonkan yang baik untuk ulat matang harus dilakukan (Kaomini dan Andadari 2004).

Standar mutu kokon dapat diklasifikasikan berdasarkan berat kokon, persentase kulit kokon, dan presentase kokon cacat. Klasifikasi mutu kokon dalam uji visual diperlukan tiga parameter untuk lenentukan kelas mutu kokon, yaitu : prosentase kokon cacat, berat kokon dan prosentase kulit kokon. Sedangkan untuk parameter uji labolatorium : daya gulung, panjang serat.

Berat kokon merupakan faktor yang sangat penting dipandang dari segi reeling kokon. Berat kokon bervariasi sesuai dengan kondisi pemeliharaan ulat dan varietas ulat. Kokon dengan pupa betina biasanya lebih berat dari pada kokon dengan pupa jantan. Pada umumnya berat kokon adalah 1,5-1,8 gram untuk varietas murni dan 2,0-2,5 gram untuk hybrida.
Makin berat kulit kokon, makin besar kandungan seratnya. Hal ini bervariasi, sesuai dengan varietas ulat sutera, dan kondisi pemeliharaan dan kondisi pengokonan. Kokon dengan pupa betina lebih berat dari pada yang jantan. Pada umumnya beratnya antara 30-40 cgr untuk varietas murni dan 35-55 cgr untuk hybrida.

Beberapa bentuk kokon cacat, antara lain adalah : 1) Kokon Ganda (Kokon yang dibuat oleh dua ekor ulat bersama-sama, menghasilkan kokon yang besar, lapisan sutera yang tebal dan berkerut kasar); 2) Kokon Bernoda Dalam (Kokon yang pupanya mati atau terluka didalam sehingga kokonnya ternoda di dalam); 3) Kokon Bernoda Luar (Kokon yang ternoda oleh kotoran atau ulat mati dibagian luarnya); 4) Kokon Berujung Tipis (Kulit kokon yang tipis pada bagian ujungnya).


Sumber:
http://baskara90.wordpress.com/